Apa yang kita pahami tentang Tuhan

Apa yang kita pahami tentang Tuhan, sangat menentukan bagaimana cara hidup kita sehari-hari.

Mereka yang yakin bahwa Tuhan itu benar-benar ada dan Maha Melihat semua perbuatan manusia, pasti akan berhati-hati dalam hidupnya.

Ketika akan berbuat dosa, ia langsung merasa “malu” dan “takut” karena ia bisa merasakan Tuhan sedang mengawasinya.

Tentu berbeda sekali dengan orang yang kurang yakin dengan adanya Tuhan, atau yang masih “salah paham” tentang Tuhan.

Lalu ketika menghadapi malapetaka atau kesedihan serta kegagalan, atau ketika telah banyak melakukan kesalahan dan dosa, barulah ingat kepada Tuhan.

Bagi mereka yg “gagal paham tentang Tuhan” … jangan heran jika terbetik di dalam hatinya gugatan, “Mengapa Tuhan menciptakan aku, padahal aku tidak memintanya dan bahkan tidak mau.”

Tentu saja kata-kata seperti ini adalah untuk menutupi kesalahannya atau karena sudah mencapai titik keputusasaan yang tertinggi.

Mereka tidak menyadarinya, bahwa pertanyaan itu adalah langkah berikut-syetan dalam mempersesat manusia.

Yakni mau membawa manusia ke tempat yang kekal abadi dalam dosa dan neraka. Yakni “bunuh diri”, atau “tidak bangkit lagi dalam usaha”, putus ada, dsb. Na’udzubillah.

Padahal, jika mereka itu memahami Tuhan, sebetulnya dalam berbagai kegagalan dan bahkan banyak dosa sekalipun… terdapat banyak jalan solusi yang diberikan Tuhan melalui Islam.

Apabila kegagalan yang terjadi, bukan berasal dari kesalahannya sendiri, maka justru Tuhan akan memberikan pahala akhirat dan hal-hal baik lainnya di dunia, yang bisa jadi kita sendiri tidak mengetahui atau menyadarinya.

Sedangkan kalaulah kegagalan itu bersumber dari diri kita sendiri (salah sendiri) atau bahkan ada perbuatan dosa yang telanjur kita lakukan, maka hal itupun masih ada jalan untuk mengubahnya menjadi kebaikan dan pahala.

Misalnya dengan mengakui, menyesali dan tekun mengubah keadaan dan/atau menjauhi dosa dan kesalahan tsb … maka kegagalan dan dosa tadi, akan berubah menjadi kebaikan dan pahala.

Kurang murah apa Tuhan kepada kita manusia?

Allah berfirman dalam QS: 25: 70 yg isinya kurang lebih:

“Kecuali bagi yang bertaubat dan beriman serta melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, maka Allah akan mengganti keburukan-keburukan mereka menjadi kebaikan-kebaikan..”

Jadi, Tuhan bukan hanya mengampuni dosa, tapi dosa dan keburukan itu sendiri akan di-ubah-Nya menjadi kebaikan dan pahala, ketika manusia sudah melakukan perubahan dan taubat.

Alangkah Maha Pemurah nya Allah SWT…

***

Dalam pandangan filsafat, setiap keburukan itu pasti “menempel” ke jati diri (ruh) kita… dan mempengaruhi jiwa kita. Sehingga ada efeknya pada ruhani/jiwa kita.

Tapi tidak perlu berputus asa, sebab selama kita masih hidup di dunia, maka “jejak buruk” pada jiwa/ruh itu masih bisa diubah.

Walaupun memang, tingkat kesulitan atau berat ringannya, tergantung sejauh mana ia telah menjadi bagian dari ruh kita.

Artinya kalau ia masih “kecil” (baru sekali dia kali) maka sangat mudah untuk dirubah.

Kalau ia semakin kuat, maka semakin sulit pula merubahnya.

Oleh karenanya orang yang cepat bertaubat, akan lebih ringan menghadapi tantangan dari dalam dirinya ketimbang orang yang sering menunda taubatnya.

Memang, kalau keburukan/dosa itu terlalu sering dilakukan dalam waktu yang cukup lama, berulang-ulang… maka jejak keburukan itu sudah menjadi “darah daging” atau menjadi bagian zat dari ruh kita, atau dengan kata lain telah jadi substansi jiwa kita, maka hal ini sudah mustahil diubah.

Oleh karena itulah kadang Tuhan dalam mengumumkan keadaan mereka itu, memakai perumpamaan seperti dalam ayat QS: 2: 18

“Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali”

Atau seperti dalam QS: 2: 7 yg berbunyi:

“Allah telah mengunci akal/hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka telah ditutup, dan bagi mereka siksa yang pedih”

***

Patut dipahami, dalam kedua ayat di atas, Allah SWT tidak melakukan penutupan dan penguncian.

Karena kalau Tuhan melakukan hal itu, berarti Tuhan-lah yang harus bertanggung jawab terhadap keburukan mereka setelah ditutup itu.

Jadi, ayat di atas *hanya mengabarkan* kepada kita, bahwa keburukan (begitu pula kebaikan) yang dilakukan berulang-ulang, lama kelamaan akan membuat kita kecanduan.

Dan kalau kecanduannya itu menguat hingga membuat kita tidak lagi bisa merubahnya, maka itulah yang disebuat telah menjadi bagian zat diri kita atau jadi substansi ruh kita.

Jadi, karena ia telah menjadi zat dan substansi kita, maka sebagaimana sesuatu itu tidak akan berpisah dari zat dan substansinya sendiri, maka perbuatan yang telah mensubstansi itupun tidak akan bisa kita hilangkan dari zat kita.

Jadi, makna ayat itu adalah diri kita sendirilah yang telah membuat mata, telinga dan akal/hati kita menjadi buta, tuli dan membatu-hitam.

Karena itu yang bertanggung jawab adalah manusia itu sendiri.

***

Akan tetapi… sekalipun mungkin kita mengira bahwa sesuatu itu (kebaikan atau keburukan) sudah menjadi substansi diri kita, hingga terasa sudah tetap, tak lagi bisa diubah …. tetap saja kita tidak bakal bisa memastikannya.

Misal, kita selalu berkata jujur dalam setiap hal, sehingga kita merasa sifat ini sudah menetap jadi karakter kepribadian kita, atau dalam istilah filsafat sudah menjadi substansi ruh kita…

atau kita sudah terlalu sering dan terbiasa berbohong, sehingga tanpa sadar telah jadi karakter diri kita (substansi jiwa kita)

Pada kedua keadaan itu, tetap kita tidak bisa memastikan bahwa benar-benar karakter itu sudah jadi “jati diri” kita.

Karena yg benar-benar tau hanyalah Allah SWT. Sementara Allah SWT senantiasa membuka pintu ampunan dan taubat, sebesar apapun dosa manusia.

Yg perlu dipahami dari dua contoh diatas adalah: Tidak ada satu orang pun yang berhak menghakimi hakikat diri kita, ataupun hakikat diri (substansi ruh) orang lain.

Itu sebabnya, kita tak boleh meremehkan para pendosa, lalu menghakimi mereka bahwa mereka pasti masuk neraka. Karena kita merasa para pendosa itu gak bakalan bisa berubah. Jangan!

Begitu pula sebaliknya, karena kita selalu shalat dan puasa, selalu ke masjid, sering berdakwah… lalu merasa “GR” bahwa substansi diri kita sudah jadi “penduduk surga”. Lalu merasa diri suci. Jangan tertipu!

Siapapun ia… Allah SWT telah menetapkan agar para pendosa atau mereka yg selalu gagal untuk jangan pernah berputus asa mengubah keadaan. Bahkan putus asa itu sendiri adalah dosa yang harus dihindari.

Begitu juga tidak boleh siapapun merasa aman atas segala kebaikan dan amal shaleh nya, sehingga yakin pasti selamat, masuk surga.

Jalan kehidupan masih panjang. Cobaan dan ujian hidup masih terus berlangsung.

Jadi, bagi yang masih terkadang berbuat buruk, tetaplah berusaha taubat dan jangan putus asa untuk memperbaiki diri.

Sedangkan yang sudah banyak berbuat baik, harus tetap waspada supaya kebaikannya itu langgeng dan tidak berubah.

Semoga Allah SWT memberikan taufik kepada kita untuk senantiasa taat kepada Allah SWT dalam berbagai keadaan. Amin 🤲

___________
Tulisan ini dibuat berdasarkan pemahaman yang saya simpulkan dari mendengarkan kajian Ushuluddin dan beberapa tulisan lain tentang tauhid. WaAllahu a’lam

Share: