Ke-Esa-an Tuhan

Apa argumentasinya bahwa Allah SWT itu adalah ESA?

1. Argumen Tak Terbatas

Dalam tulisan sebelum ini, kita sudah membuktikan bahwa Allah SWT adalah wujud yang tidak terbatas.

Dari argumen ini, dengan mudah akal kita sudah langsung bisa mengambil kesimpulan, bahwa sesuatu yang tidak terbatas pastilah tidak mungkin lebih dari satu.

Karena jika lebih dari satu, itu kan berarti telah terjadi keterbatasan.

Misalnya ada dua wujud tidak terbatas yaitu, wujud tidak terbatas A dan wujud tidak terbatas B.

Jika kita pikirkan secara mendalam, maka akan terlihat bahwa keduanya jadi terbatas, karena, ‘wujud tidak terbatas’ A akan dibatasi oleh ‘wujud tidak terbatas’ B.

Dan begitu pula sebaliknya, wujud tidak terbatas B akan dibatasi wujud tidak terbatas A.

Jadi sangat jelas sekali, bahwa wujud yang tidak terbatas mestilah hanya satu (Esa).

2. Argumen Keteraturan Alam

Wujud yang mengatur alam semesta ini tidak mungkin lebih dari satu, karena, akan mengakibatkan sistem yang bekerja pada semesta juga menjadi lebih dari satu, dan hal ini mustahil.

Artinya, jika ada dua pengatur, yaitu Pengatur A dan Pengatur B, maka ini berarti Pengatur A dan seluruh sistemnya tidak diatur oleh Pengatur B, dan sebaliknya juga, Pengatur B dengan seluruh sistemnya tidak diatur oleh Pengatur A.

Jika demikian, berarti Pengatur A dan Pengatur B, tidak layak disebut sebagai Pengatur Sempurna, karena ia masih lemah dan tidak memiliki kemampuan, sebab masih ada yang tidak diaturnya.

Wujud yang lemah jelas bukanlah Tuhan.

Sementara kita melihat betapa harmonis nya alam semesta ini. Berarti jelas terbukti bahwa Pengatur nya pastilah hanya satu (Esa).

3. Argumentasi Kesempurnaan

Karena Allah SWT adalah wujud yang tidak terbatas, maka pastilah wujud tertinggi ini super sempurna dari segala sisi.

Wujud seperti ini mestilah tunggal, karena jika tidak, maka akan menghasilkan kekurangan pada tiap wujud.

Misalnya, jika ada dua wujud yang sempurna yaitu : wujud sempurna A dan wujud sempurna B. Ini berarti, kedua wujud itu menjadi saling berkekurangan, karena wujud sempurna A tidak memiliki kesempurnaan B, dan sebaliknya pula, wujud sempurna B, tidak memiliki kesempurnaan A.

Jelas, wujud yang tidak sempurna tidak layak disebut Tuhan.

Jika dikatakan bahwa wujud sempurna A dan B masing-masing memiliki kesempurnaan yang sama, maka itu berarti, wujud A dan B sebenarnya adalah satu dalam realitasnya.

Ini berarti, wujud sempurna hanyalah satu (Esa). Yaitu Allah SWT.

“QulhuwaAllahu Ahad.”

Allah itu Esa secara mutlak, tidak berbilang dan tidak bersekutu dalam hal apapun.

Makanya tentu saja, siapa pun yang meyakini sebaliknya, maka sesungguhnya ia telah jatuh pada kezhaliman dan dosa yang besar (syirk).

Semoga kita semua bisa mengaplikasikan keesaan Allah SWT tsb dalam berbagai sisi kehidupan kita sehari-hari.

___________
Tulisan ini dibuat berdasarkan pemahaman yang saya simpulkan dari mendengarkan kajian Ushuluddin dan beberapa tulisan lain tentang tauhid. WaAllahu a’lam

Share: